Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Page Language

Kisah Rasulullah ﷺ Berdagang Dengan Khadijah Hingga Menikah

Kisah Rasulullah  ﷺ Berdagang Dengan Khadijah Hingga Menikah

Kataba Islam - Saudara Muslimku, usia Nabi kita tercinta Muhammad ﷺ terus bertambah, ia kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah. Pamannya, Abu Thalib, tak kenal henti memberikan kasih sayangnya.

A. Pekerjaan Rasulullah ﷺ

Selama dalam pengasuhan pamannya, Muhammad ﷺ harus hidup penuh keprihatinan. Maklum, Abu Thalib tidak memiliki harta berlebih seperti 'Abdul Muthallib, kakek Muhammad ﷺ.

la pun kemudian berjuang mencari nafkah untuk membantu dan menghidupi dirinya sendiri.


Tidak ada pekerjaan tetap yang digeluti Muhammad ﷺ. Beberapa riwayat mengisahkan beliau bekerja sebagai penggembala kambing. Abu Hurairah meriwayatkan suatu hari,

Nabi ﷺ berkata, “Tidaklah Allah swt mengutus seorang nabi, melainikan dia pernah menggembala domba”.

Para sahabat bertanya, "Engkau juga, wahai Rasulullah?"

"Benar," jawab beliau. "

“Dulu aku menggembala domba milik penduduk Makkah dengan imbalan beberapa qirath.

Meski tidak punya pekerjaan tetap. Muhammad ﷺ dikenal sebagai pemuda yang berakhlak mulia, jujur, amanah, santun, dan bersahaja.

Setiap pekerjaan yang dilakoninya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kemuliaan akhlak Muhammad ﷺ itu terdengar di telinga Khadijah binti Khuwailid.

Ia adalah seorang wanita pedagang yang memiliki harta dan bernasab baik. Dia membayar banyak kaum lelaki untuk berdagang dengan system bagi hasil.

Khadijah pun mengutus seseorang untuk mengajak Muhammad ﷺ berniaga kenegeri Syam. Tawaran itu diterima Muhammad ﷺ. Ia bergegas berangkat menemui Khadijah.

Muhammad ﷺ tiba di rumah Khadijah, ia mengucapkan salam dan meminta izin kepada Khadijah untuk masuk.

Sebuah percakapan pun terjadi. Khadijah langsung berbicara ke inti persoalan.

“Aku sedang butuh orang untuk menjual barang daganganku ke negeri Syam. Aku butuh orang yang jujur, dapat dipercaya.

Aku tahu, engkau orang yang jujur dan dapat diandalkan.

Aku yakin engkau adalah orang yang tepat, karenanya aku tawarkan pekerjaan ini kepadamu.," kata Khadijah.

la berjanji akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan saudagar lainnya.

Muhammad ﷺ langsung menerima tawaran Khadijah untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Persiapan keberangkaran pun dilakukan.

Khadijah meminta pelayan terbaiknya, Maisarah sebagai asisten Muhammad ﷺ.

Tak lupa Khadijah membisikkan sesuatu kepada Maisarah.

“Kau jangan membangkan pada Muhammad ﷺ. Lakukan apa yang diinginkannya, engkau juga harus mengamatinya sepanjang perjalanan.

Ketika pulang laporkan apa yang engkau lihat kepadaku”, bisik Khadijah.

Waktu kepergian tiba, hampir seluruh sanak saudara Muhammad ﷺ berkumpul untuk melepas keberangkatannya.

Perjalanan itu akan panjang. Itu artinya mereka tak dapat berjumpa dengan Muhammad ﷺ dalam waktu yang lama.

Muhammad ﷺ bersama Maisarah kemudian bertolak dalam sebuah kafilah menuju Syam.

Hari berganti hari, siang silih berganti dengan malam mengiringi perjalanan. Maisarah melakukan apa pun agar Muhammad ﷺ merasa nyaman.


B. Di Bawah Pohon Bertemu Pendeta Nasthura

Tepat pada bulan ketiga, mereka tiba di Basra, tidak jauh dari Syam. Sebuah perayaan besar sedang berlangsung.

Barang dagangan digelar oleh para musafir di atas permadani. Muhammad ﷺ melepas lelah di bawah pohon besar, tidak jauh dari kuil seorang rahib.

Tanpa sepengetahuan Muhammad ﷺ, Nasthura, seorang pendeta mengamati gerak-gerik Muhammad ﷺ.

la kemudian menghampiri Maisarah, "Siapa yang berteduh di bawah pohon itu?" tanya Nasthura.


"Orang Quraisy dari Makkah," Maisarah menjawab.

"Tidak seorang pun berteduh di bawah pohon itu, melainkan dia seorang nabi," kata Nasthura.

Maisarah tercengang mendengarnya. Belum habis rasa terkejut Maisarah, Nasthura kembali mengulanginya. "la adalah Nabi Terakhir."

Perasaan Maisarah campur aduk gembira, senang, terkejut, dan gelisah.

Sebuah rahasia besar berada di genggamannya. la merasa beruntung dapat mendampingi seorang pemuda yang kelak akan menjadi nabi.

C. Awan Mengiringi Muhammad saw

Perjalanan dilanjutkan, Muhammad ﷺ dan kafilahnya tiba di Syam.

Beliau menjual barang dagangan yang dibawanya, dan membeli produk Syam untuk dijual di Makkah.

Setelah empat tahun di Syam, kafilah dagang itu bergegas kembali ke Makkah.

Di siang hari, cuaca panas seperti memanggang rombongan. Kulit kepala mereka terasa terbakar. Kulit tubuh bercucuran keringat.

Mereka tidak kuasa menahan panggangan matahari. Saat itulah Maisarah menyaksikan mukjizat.



Segumpal awan terus menaungi Muhammad ﷺ dan rombongan, ke mana pun mereka bergerak.

Awan itu terus berarak meneduhi Muhammad ﷺ sepanjang perjalan, seolah diperintahkan untuk mengikutinya. Hanya Maisarah yang melihat keajaiban itu. Para musafir lainnya tidak ada yang tahu.

Pemandangan menakjubkan itu membuat Maisarah kian yakin dengan apa yang diucapkan pendeta Nasthura bahwa Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir.

Setibanya di Makkah, Muhammad ﷺ langsung menuju kediaman Khadijah.

Sesampainya di sana, ia menyetorkan modal dan keuntungan kepada Khadijah.

Kemudian Muhammad ﷺ menjual barang dagangan yang beliau beli di Syam. Muhammad ﷺ mendapatkan keuntungan lebih atas perniagaannya itu.

Khadijah terlihat gembira dengan usaha Muhammad ﷺ yang masih muda. Tidak sia-sia ia memberikan kepercayaan kepada Muhammad ﷺ.

Muhammad ﷺ segera kembali ke rumahnya.

Saat itulah Maisarah menuturkan kepada Khadijah beragam peristiwa yang terjadi saat mendampingi Muhammad ﷺ berdagang.

Maisarah mengisahkan pertemuannya dengan seorang pendeta dan apa yang dikatakan sang pendeta tentang Muhammad ﷺ.

Dia menuturkan pula tentang awan yang menaungi Muhammad selama dalam perjalanan,

Khadijah mendengarkannya dengan penuh perhatian seolah tak ingin melewatkan sedikit pun informasi tentang Muhammad ﷺ.

D. Menikah Dengan Khadijah

Semua yang dikisahkan Maisarah membuat Khadijah kian kagum kepada Muhammad ﷺ. la pun berkeinginan untuk menikah dengan Muhammad saw.

Hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya. Selama ini banyak lelaki yang ingin menikahinya, tetapi ia selalu menolaknya.

Keinginan untuk menjadi istri Muhammad ﷺ kemudian ia sampaikan kepada temannya. Nafisah binti Munayyah.

Khadijah meminta Nalisah menemui Muhammad ﷺ.

Saat bertemu Muhammad ﷺ, Nafisah mengajukan sebuah pertanyaan."Mengapa engkau tidak menikah?"

Muhammad ﷺ tidak mengira akan ditanya seperti itu. Sesaat Muhammad ﷺ yang masih muda terdiam.

Nafisah melanjutkan perkataannya, “Kalau ada seorang wanita jujur dan terhormat dan ia menerimamu apa adanya, apa pendapatmu?”

" Siapa dia?" tanya Muhammad ﷺ penasaran.

"Khadijah, wanita paling istimewa di Makkah", jawab Nafisah. la kemudian menyampaikan pesan Khadijah.

“Wahai saudara sepupuku, aku menyukai dirimu sebab kesederhanaan dan kedekatanmu dengan kaummu. keteguhanmu menunaikan amanah, akhlak muliamu, dan kejujuranmu dalam berucap," kata Nafisah, menirukan apa yang diucapkan Khadijah.

Awalnya Muhammad ﷺ muda terkejut. la tak menduga dirinya dilamar Khadijah, seorang wanita Quraisy yang amat dihormati dan wanita kaya raya.

Setiap pria Quraisy amat mendambakan Khadijah menjadi istrinya andai mereka mampu.

Setelah cukup lama merenung, Muhammad ﷺ menyetujui permintaan Khadijah. la lalu menceritakan hal tersebut kepada para pamannya.

Tanpa menunggu lama, para paman Muhammad ﷺ mendatangi paman Khadijah untuk melamar.

Hari pernikahan disepakati. Muhammad ﷺ yang masih muda mendatangi kediaman Khadijah didampingi keluarga besarnya. Abu Thalib pamannya, terlihat gembira.

Pada satu kesempatan, ia maju dan berdiri di depan para undangan.

“Muhammad ﷺ berbeda dengan pemuda yang lain. Tidak ada yang secerdas, sebaik, dan sesopan Muhammad ﷺ.

Kami ingin menikahkan putri kalian dengan putra kami. Untuk itu, kami memberikan mahar sebanyak 20 ekor unta," kata Abu Thalib.

Ucapan itu disambut gembira keluarga besar Khadijah. Waraqah, sepupu Khadijah membalas perkataan Abu Thalib. "Kami ingin dekat dengan kalian.

Allah telah memberikan banyak kebaikan pada kedua keluarga. Kami menerima pernikahan putri kami Khadijah dengan putra kalian, Muhammad ﷺ.

Semoga pernikahan ini membawa banyak kebaikan bagi keluarga”.

Pernikahan pun berlangsung dengan khidmat. Tamu undangan memberi selamat kepada kedua pengantin.

Pernikahan dihadiri oleh para pemimpin Bani Hasyim dan Bani Mudhar. Peristiwa itu berlangsu pada 2 bulan sctelah Muhammad ﷺ pulang dari Syam.

Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Muhammad ﷺ. la tidak menikah dengan wanita lain hingga Khadijah wafat.

E. Enam Anak dari Rahim Khadijah

Rumah tangga Muhammad saw dan Khadijah berbalut kebahagiaan.

Kegembiraan, kasih sayang, akhlak mulia, dan kejujuran menyelimuti kehidupan keduanya. Sebuah rumah tangga nan harmonis, penuh cinta, dan rasa hormat.

Muhammad ﷺ kini menjadi pedagang. Berbagai negeri ia kunjungi dengan membawa barang dagangan milik istrinya untuk dijual.

Hasil jualannya memberikan Muhammad ﷺ keuntungan berkali-kali lipat. Khadijah menjadi lebih kaya dibandingkan sebelumnya.

Namun, kehidupan mereka tetap sederhana. Mereka pun selalu membantu orang miskin.

Kebahagiaan mereka kian lengkap dengan hadirnya enam anak dari rahim Khadijah. Mereka adalah al-Qasim (Nabi Muhammad saw dijuluki dengan namanya, Abu al-Qasim),

Zainab, Ruqayyah, Ummu Kul- tsum, Fathimah, dan Abdullah (Julukan-nya adalah ath-Thayyib dan ath-Thahir).

Selain dari Khadijah, Rasulullah saw juga memiliki anak laki-laki dari istrinya yang lain Mariyah, saat di Madinah. Namanya Ibrahim, yang meninggal saat masih kecil.

Semua anak Nabi ﷺ membawa berkah sendiri bagi lingkungannya.

Mereka anak-anak yang sopan, periang, cerdas, dan gemar menolong. Mereka sangat disukai teman-teman mereka. Muhammad ﷺ dan Khadijah sangat menyayangi keenam anak mereka.

Kebahagiaan keluarga Muhammad ﷺ tak berlangsung lama.

Muhammad ﷺ dan Khadijah harus mengikhlaskan kepergian anak-anak mereka untuk selamanya.

Semua putra mereka meninggal saat masih kecil, sedangkan putri-putri mereka hidup sampai masa Islam, memeluk Islam, dan ikut berhijrah.

Namun, semuanya meninggal semasa beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang meninggal enam bulan setelah beliau wafat.

Qasim dan Abdullah adalah anak-anak yang pertama kali meninggal. Keduanya wafat secara berturut-turut.

Kesedihan terlihat jelas di wajah Muhammad ﷺ dan Khadijah. Namun, seperti biasa, masa sulit itu dilalui keduanya dengan kesabaran.

F. Julukan Muhammad Al-Amin

Sebuah julukan diberikan kepada Muhammad ﷺ yang masih remaja oleh penduduk Makkah.

Mereka kerap memanggilnya al-Amin: orang yang dapat dipercaya.

Al- Amin juga berarti "selalu dicintal dan dihormati", dan "orang yang selalu memiliki sesuatu yang baik".

Julukan itu diberikan karena kepribadian Muhammad ﷺ yang luhur. la tidak pernah berbohong, berdusta, dan berkhianat.

Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya berisi kebenaran. Di mana-mana, penduduk Makkah tidak pernah absen membincangkannya "Muhammad ﷺ tidak pernah berbohong.

Kita tidak akan memercayai orang lain sebagaimana kita memercayal Muhammad ﷺ," kata penduduk Makkah.

Next Kisah Rasulullah ﷺ: Berdakwah dihadapan Abu Lahab secara terbuka, klik disini.


Penulis&Artikel: katabaislam.com
Ref: DR.Ahmad Hatta, MA. dkk.
Kol: MagfiraPustaka

INGAT !!!