Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad ﷺ

Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad ﷺ

Kataba Islam - Saat Nabi Muhammad ﷺ berusia 4 tahun. Suatu siang ia tengah bermain di perkampungan Bani Sa'ad bersama teman-teman sebayanya, datanglah malaikat Jibril menghampiri Nabi Muhammad ﷺ. 


Tangan mungil Rasulullah dipegang malaikat Jibril yang membuatnya kaget. Belum hilang rasa terkejutnya, malaikat Jibril segera merengkuh tubuhnya hingga Rasulullah pingsang.


Jibril dengan cepat membuka baju Nabi Muhammad ﷺ lalu membedah dadanya dan mengambil hatinya. 

Segumpal darah dikeluarkan oleh Jibril dari hati tersebut seraya berkata "Ini bagian setan dalam dirimu!". 

Dia mencuci segumpal darah tersebut di dalam bejana emas dengan air zam-zam. 

Setelah hati itu bersih, dia kembalikan ke tempat semula di dalam tubuh Muhammad ﷺ. (HR. Muslim)

Peristiwa itu membuat teman-teman sebayanya lari ketakutan. Mereka mencari ibu susuan Muhammad ﷺ sambil berteriak 

"Muhammad telah dibunuh!" Halimah terkejut mendengarnya. 

Bersama dengan kaum Bani Saad lainnya, ia mendatangi Muhammad ﷺ. Sesampainya di sana, mereka bertambah terkejut. 

Muhammad tampak berdiri, ia terlihat sehat. Bahkan, rona wajahnya berubah drastis, tampak lebih cerah dan memancarkan sinar kemuliaan. 

Anas berkata, "Sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada Nabi ﷺ." (HR. Muslim)

Peristiwa itu terus membekas di pikiran Halimah. la tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan Muhammad. 

Halimah menjadi cemas terhadap keselamatan anak susuannya itu. 

Sebuah keputusan penting diambilnya: ia mengembalikan Muhammad kepada Aminah. 

Pembedahan dada Muhammad tidak hanya terjadi ketika beliau masih dalam pengasuhan Halimah. 

Menurut Ahmad dan Ibnu Sakir, hal serupa juga terjadi saat Muhammad ﷺ berusia 10 tahun lebih beberapa bulan. (ak-Fath ar-Rabbani dan Tarikh Madinah Di masyqi)

Sementara itu, ada juga yang berpendapat, pembedahan dada Muhammad ﷺ dilakukan untuk kedua kalinya pada saat beliau berusia 50 tahun. 

Peristiwa ini terjadi ketika beliau melakukan Isrá' ke Baitul Maqdis. (HR. Bukhâri, Ahmad, Hâkim, dan Tirmidzi) Pendapat didukung oleh adz-Dzahabi dalam bukunya a-Sirah an-Nabawiyah.

Pembedahan dada Muhammad ini, diragukan oleh kalangan rasionalis, orientalis, atau sebagian kalangan umat Islam. 

Mereka berpendapat, kejadian tersebut tak ubahnya sebuah mitos, lain ingga sekarang masih saja perumpamaan dan ungkapan-ungkapa yang satu makna. 

Ibnu Hajar menyangkal semua pendapat itu. 

Menurutnya, pembedahan dada, pengambilan hati, dan semua hal yang terkait dengan kejadian tersebut merupakan hal yang luar biasa yang harus diterima apa adanya tanpa perlu berpendapat untuk meragukan kebenarannya. 

Karena, itu semua merupakan kekuasaan Allah. Dan bagi Allah, tidak ada hal yang mustahil. (al-Fath)

Bagi kita yang Muslim, tidak ada ruang untuk meragukan kebenaran peristiwa itu. 

Logikanya sederhana, ukuran diterimanya sebuah hadits atau riwayat terletak pada sejauh mana kesahihan jalur dan sumber periwayatannya. 

Hadits atau riwayat yang mengisahkan tentang pembedahan dada Muhammad ﷺ telah diterima dan derajat kesahihannya tak perlu diragukan. 

Artinya, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menafsirkan secara berbeda peristiwa tersebut dengan makna sesungguhnya berdasarkan logika manusia, seperti yang telah dilakukan kaalangan rasionalis, orientalis, dan sebagainya.


Hikmah Pembedahan Dada Rasulullah ﷺ.

Dibedahnya dada Muhammad saw, kata DR. Ramadhan al-Buthi, mengandung hikmah:
  1. Memberitahukan keberadaannya sebagai Rasul yang maksum (bersih dari dosa) dan menyiapkannya sebagai pembawa wahyu llahi
  2. Agar manusia lebih mudah memercayai dan membenarkan risalahnya;
  3. Sebagai prosesi pencucian jiwa, dengan cara yang bisa diterima indra manusia, dengan mengambil segumpal darah dari hati Muhammad saw, sehingga beliau terbebas dari segala aktivitas yang tidak bermanfaat dan berbahaya.
  4. Membentuk karakter Nabi saw sebagai pribadi yang tangguh, teguh, bija dan kesatria. Tidak ada ruang bagi setan untuk menggoda dan menjerumuskannya.

Penulis&Artikel: katabaislam.com
Ref: DR.Ahmad Hatta, MA. dkk.
Kol: MagfiraPustaka

INGAT !!!